yangberarti: " aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk ". Dari satu ayat Qur'an di atas, banyak sekali timbul pertanyaan yang timbul dalam benak saya. 1. Siapa yang harus berlindung? 2. Kepada siapa kita berlindung? 3. Kenapa kita harus berlindung? 4. Pada apa-Nya kita berlindung? 5. Kenapa setan di kutuk? 6.
Ada sebuah doa yang diajarkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Di dalamnya terkandung permohonan agar Allah melindungi kita dari empat keburukan. Doanya berbunyi sebagai berikut “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”HR Muslim 4899 Setiap muslim tentunya tidak ingin terlibat dengan keempat macam keburukan yang disebutkan di dalam doa ini. Pertama, ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu yang tidak bermanfaat adalah semua jenis ilmu yang tidak mengantarkan seseorang kepada penambahan iman. Ilmu yang tidak bermanfaat justru merongrong iman seseorang sehingga semakin lama imannya semakin menipis. Sedangkan ilmu bermanfaat ialah ilmu yang membuat seseorang menjadi semakin dekat dengan Allah. Ilmu bermanfaat akan mengantarkan seseorang untuk menjadi ingat akan kehidupan sejati kelak di akhirat. Contohnya ialah para ulul al-bab orang-orang yang berakal yang disebutkan di dalam Al-Qur’an sebagai berikut “…Sungguh terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” QS Ali Imran ayat 190-192 Ulul al-bab merupakan orang-orang yang menggunakan akal mereka sehingga setelah melakukan pengamatan terhadap alam sambil mengingat Allah, lalu mereka segera teringat akan kehidupan di akhirat. Sehingga mereka segera berdoa “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Inilah gambaran mereka yang cermat dalam memilih ilmu untuk diamalkan. Mereka sibuk dengan ilmu yang bermanfaat. Mereka sangat peduli untuk memastikan bahwa ilmu apapun yang dikejar haruslah mengantarkan mereka menjadi lebih dekat dan tunduk kepada Allah. Ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang segera membangkitkan ingatan akan kehidupan akhirat yang hakiki dan abadi. Mereka sangat waspada dan curiga terhadap berbagai ilmu yang potensial mengancam stabilitas iman. Mereka sangat khawatir terhadap berbagai ilmu yang menimbulkan keraguan akan kebenaran ajaran Allah, Din Al-Islam. Mereka waspada menghadapi ilmu yang membuat mereka lebih cinta kepada dunia dan melalaikan mereka akan akhirat. Kedua, hati yang tidak khusyu’. Keburukan berikutnya adalah memiliki hati yang tidak khusyu’. Artinya hati yang tidak tunduk kepada Allah. Hati yang liar dan tidak bersandar kepada Allah dalam menggapai ketenteraman. Padahal ciri orang beriman ialah bila mengingat Allah hati mereka menjadi tenteram. ”yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” QS Ar-Ra’du ayat 28 Sedemikian pentingnya memiliki hati yang khusyu’ tunduk sehingga Allah sendiri memperingatkan kita agar waspada terhadap kekeringan atau kegersangan hati. Hal ini muncul bila orang beriman terlalu lama mengabaikan ayat-ayat Allah. Mereka sengaja membuat jarak dengan ayat-ayat Allah sehingga dengan berjalannya waktu hati menjadi tidak khusyu’ alias menjadi keras. Satu-satunya solusi ialah kembali menghidupkan ingatan dan perhatian terhadap ayat-ayat Allah. Hidupkan makna ayat-ayat tersebut di dalam kehidupan nyata. “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tundukkhusyu’ hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” QS Al-Hadid ayat 16 Ketiga, nafsu yang tidak pernah kenyang. Ini merupakan keburukan berikutnya. Apalagi kita sedang menjalani zaman paling kelam dalam sejarah Islam. Di zaman ini begitu banyak fitnah yang tersebar, sehingga tawaran untuk menuruti hawa-nafsu bermunculan di sekeliling kita. Hampir dalam semua situasi ada peluang untuk menuruti hawa-nafsu. Maka di zaman seperti ini sangat diperlukan pengendalian diri. Sangat diperlukan kemampuan untuk memuaskan nafsu dengan cara yang sesuai syariat dan proporsional. Islam tidak datang untuk membunuh nafsu. Islam datang untuk mengendalikan hawa-nafsu. Sehingga kebutuhan pemuasan nafsu bukan dimatikan melainkan diarahkan agar sesuai dengan aturan syariat Allah. Dan bila hal ini dilakukan maka bukan saja seseorang terbebas dari dosa bahkan ia dapat memperoleh pahala dari Allah atas pemenuhan hawa-nafsu yang sesuai syariat Allah. “Sesungguhnya di antara sahabat Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam ada yang berkata”Ya Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan sholat sebagaimana kami mengerjakan sholat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda “Bukankah Allah telah menjadikan bagimu sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah, menyuruh seseorang kepada kebaikan adalah sedekah, melarangnya dari kemungkaran adalah sedekah dan bersetubuhnya seorang kamu dengan istrinya adalah sedekah.” Mereka bertanya ”Ya Rasulullah, apakah jika salah seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya, apakah ia mendapat pahala?” Rasulullah menjawab ”Tidakkah kamu tahu, apabila seseorang menyalurkan syahwatnya pada yang haram, dia berdosa? Demikian pula apabila disalurkannya kepada yang halal, dia mendapat pahala.” HR Muslim 1674 Keempat, doa yang tidak dikabulkan. Ini jelas merupakan suatu keburukan. Bayangkan, seorang muslim berdoa kepada Allah namun tidak dikabulkan. Jelas ini merupakan suatu musibah. Padahal Allah sendiri menjamin bahwa jika seseorang memohon sesuatu kepada Allah, pasti Allah akan kabulkan. Tentu ada syaratnya pertama, memohon hanya kepada Allah, tidak kepada selainNya; kedua, penuhi segenap perintah Allah dan ketiga, beriman dengan sebenarnya kepada Allah SWT. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” QS Al-Baqarah ayat 186
Berteriak"Allahu Akbar" tapi merasa diri besar
Barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan. Sebab hanya Allah satu-satunya tempat berlindung, meminta keselamatan, dan tumpuan harapan. Allah, Rabb yang menguasai segenap langit dan bumi, tidak ada satupun makhluk yang luput dari kekuasaan dan ilmu-Nya. Segala manfaat dan madharat berada di tangan-Nya. Maka sungguh mengherankan apabila manusia yang lemah bersandar kepada sesama makhluk yang lemah pula, mengapa dia tidak menyandarkan urusannya kepada Allah ta’ala yang maha kuasa ?Bukankah setiap hari, di setiap kali sholat, bahkan dalam setiap raka’at sholat kita selalu membaca ayat yang mulia, Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’; hanya kepada-Mu ya Allah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan… Oleh sebab itu bagi seorang mukmin, tempat menggantungkan hati dan puncak harapannya adalah Allah semata, bukan selain-Nya. Kepada Allah lah kita serahkan seluruh urusan kita… Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan kepada Allah saja hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” QS. al-Ma’idah 23. Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban menggantungkan hati semata-mata kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Tawakal adalah ibadah. Barangsiapa menujukan ibadah itu kepada selain Allah maka dia telah melakukan kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 256Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi kebutuhannya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia pasti akan mencukupinya…” QS. ath-Thalaq 3. Ayat yang agung ini menunjukkan bahwasanya tawakal merupakan salah satu sebab utama untuk bisa mendapatkan kemanfaatan maupun menolak kemadharatan. Tawakal adalah kewajiban dan ibadah. Barangsiapa yang menujukan ibadah ini kepada selain Allah maka dia telah berbuat kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 260Salah satu bentuk perbuatan bergantung kepada selain Allah adalah dengan meminta perlindungan dan keselamatan hidup kepada selain Allah, entah itu jin, penghuni kubur ataupun yang lainnya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Janganlah kamu menyeru kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak menjamin manfaat maupun madharat kepadamu, apabila kamu tetap melakukannya niscaya kamu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” QS. Yunus 106. Mendatangkan manfaat dan menolak madharat adalah kekhususan yang dimiliki Allah. Barangsiapa yang berdoa kepada selain Allah dan dia meyakini bahwasanya yang dia seru itu menguasai kemanfaatan dan kemadharatan sebagai sekutu bagi Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 104Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan apabila Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya maka tidak ada yang bisa menyingkapnya selain Dia, dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang bisa menolak keutamaan dari-Nya. Allah timpakan musibah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Yunus 107. Ayat yang agung ini menunjukkan bahwa menyingkap keburukan/bahaya dan mendatangkan manfaat merupakan kekhususan Allah azza wa jalla. Barangsiapa yang mencari hal itu dari selain Allah sesungguhnya dia telah berbuat kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 105Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa kesempurnaan iman dan tauhid seorang hamba ditentukan oleh sejauh mana ketergantungan hatinya kepada Allah semata dan upayanya dalam menolak segala sesembahan dan tempat berlindung selain-Nya. Kalau Allah yang menguasai hidup dan mati kita, lalu mengapa kita gantungkan hati kita kepada jin dan benda-benda mati yang tidak menguasai apa-apa?!Penulis Abu Mushlih Ari WahyudiArtikel Alumni S1 Biologi UGM, Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, penulis kitab "At Tashil Fi Ma'rifati Qawa'id Lughatit Tanzil".
Akumendengar Nabi saw sering berdoa : "wahai Allah Sungguh Aku Berlindung pada Mu dari Gundah dan Sedih, juga dari Lemah dan Malas, dan dari Kikir dan penakut, dan dari himpitan hutang dan penindasan orang lain" (Shahih Bukhari) Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Jakarta - Surah An-Nas adalah surah ke-114 dan menjadi surah penutup dalam mushaf Al-Quran. Surah An-Nas diturunkan bersamaan dengan surah Al-Falaq sehingga disebut juga dengan Al-Mu' dari enam ayat, surah An-Nas tergolong dalam surah Makkiyah. An-Nas artinya manusia, kata An-Nas diambil dari ayat pertama surah penjelasan tentang manusia, selain surah An-Nas, manusia juga disebutkan dalam ayat Al-Quran lain. Salah satunya adalah surah An-Nisa ayat 1 yang berbunyiيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًاArtinya "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." QS. An-Nisa 1Berikut ini surah An-Nas Ayat 1-6, Arab, latin dan terjemahannyaقُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ - ١Arab-latin qul a'ụżu birabbin-nāsArtinya "Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,"مَلِكِ النَّاسِۙ - ٢Arab-latin malikin-nāsArtinya "Raja manusia,"اِلٰهِ النَّاسِۙ - ٣Arab-latin ilāhin-nāsArtinya "sembahan manusia,"مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ - ٤Arab-latin min syarril-waswāsil-khannāsArtinya "dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi,"الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ - ٥Arab-latin allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nāsArtinya "yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia,"مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ - ٦Arab-latin minal-jinnati wan-nāsArtinya "dari golongan jin dan manusia."Makna dan tafsir dari surah An-Nas ayat 1-6 menurut Tafsir Kemenag ialah dalam ayat tersebut Allah memerintahkan Nabi Muhammad termasuk umatnya agar memohon perlindungan kepada Tuhan yang menciptakan hingga menjaga kelangsungan hidup manusia dengan nikmat dan kasih sayang-Nya serta memberi peringatan kepada mereka dengan manusia ialah yang mengatur semua urusan mereka dan Dia Maha kaya sehingga tidak membutuhkan mereka. Sembahan manusia, Tuhan yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Itulah Tuhan yang patut disembah dan diminta berlindung kepada Allah dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi pada diri manusia dan selalu bersamanya layaknya darah yang mengalir di dalam tubuhnya. Yang membisikkan kejahatan dan kesesatan ke dalam dada manusia dengan cara yang halus, lihai, licik dan menjanjikan secara SWT menerangkat dalam ayat terakhir surah An-Nas tentang godaan tersebut, yakni bisikan setan yang tersembunyi yang ditiupkan ke dalam dada manusia yang mungkin datangnya dari jin. Dan juga dari golongan manusia yang telah menjadi budak amalkan membaca surah An-Nas agar terhindar dari godaan setan dan juga jin. Simak Video "Permintaan Maaf Wanita Simpan Al-Qur'an Dekat Sesajen-Akui Tertarik Islam" [GambasVideo 20detik] lus/row
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk." 1. Membaca Ayat Kursi satu kali "Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian.
loading...Dai yang juga Founder Daarut Tauhiid Bandung KH Abdullah Gymnastiar Aa Gym. Foto/Ist "Hasbunallah wa ni'mal wakil cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar." QS Ali Imran [3] Ayat 173. Inilah doa yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam sesaat sebelum beliau dihempaskan ke dalam api. Seketika itu pula, atas izin Allah Ta'ala, kobaran api itu menjadi dingin bagi Ibrahim . Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman "Kami berfirman, Hai api menjadi dingin lah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim". QS Al-Anbiya, [21] Ayat 69. Baca Juga Dai yang juga Founder Daarut Tauhiid KH Abdullah Gymnastiar Aa Gym mengatakan dalam bukunya "Asmaul Husna" bahwa kisah ini memberikan pelajaran kepada kita untuk senantiasa meyakini sepenuh hati bahwa hanya Allah-lah tempat kita berlindung dan memohon pertolongan. Sebab, Dialah sebaik-baik tempat berlindung. Kisah ini juga mengajarkan bahwa hendaklah kita berpegang teguh hanya kepada-Nya secara total. "Kita berbuat kebaikan dengan niat lurus sebagai ibadah kepada-Nya. Kita pun meyakini bahwa hanya kepada-Nya kita memasrahkan hasil dari segala ikhtiar yang kita lakukan," kata Aa Gym . Saudaraku, seberat apapun peristiwa yang menimpa kita, apabila kita meyakini bahwa Allah adalah Al-Waliy; niscaya kita akan bisa menghadapinya dengan baik. Seandainya seluruh jin dan manusia bersekutu untuk mencelakai kita, apabila Allah tidak menghendaki dan memberi pelindungan, niscaya tidak akan terjadi apa-apa terhadap diri kita. Ingatlah selalu akan janji-Nya"Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan, memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan, siapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluan nya." QS Ath-Thalaq [65] Ayat 2-3 Maka, janganlah pesimis saat ditimpa peristiwa yang menyulitkan atau menyakitkan. Sesungguhnya, rasa bingung, takut, menderita itu adalah karena ketidaktahuan kita tentang cara Allah memberikan jalan keluar bagi kita. Baca Juga Ketika kita ditimpa suatu kepelikan masalah keuangan, sesungguhnya Dia akan mendatang kan rezeki-Nya kepada kita dari jalan dan cara yang tidak kita sangka sebelumnya. Hal ini tentu saja akan terjadi apabila kita menjadi hamba yang bertakwa kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam berusaha dan memasrahkan hasil segala usaha kita hanya kepada-Nya. Hidup akan selalu dipenuhi suka dan duka, sedih dan gembira, begitu seterusnya silih berganti. Apa yang menjadi masalah bukanlah pergantian siklus tersebut, melainkan cara kita menghadapi atau menyikapinya. Jika kita bisa menyikapinya dengan baik, kehidupan ini akan menjadi kesempatan bagi kita untuk terus memperbaiki diri, menambah wawasan, menambah ilmu , menguatkan keimanan , dan menyongsong kehidupan abadi di akhirat yang dipenuhi kebahagiaan. "Dengan kata lain, segala persoalan hidup yang kita temui adalah kesempatan emas yang diberikan Allah Ta'ala untuk mengangkat kemuliaan, meninggikan derajat, dan membahagiakan kita," papar Aa Gym. Baca Juga Sumber Buku Asmaul Husna karya Aa Gym Jilid 2 rhs
Syeitanjuga sombong, Firman Allah QS 38 (Shaad) ayat :74, artinya " Kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir". Firman Allah lainnya dalam QS 38:76, syeitan itu merasa dirinya lebih baik (QS 38 (shaad:76). Syeitan itu mengajak berselisih, mengajak pelit, kikir dan banyak lagi. "Sesungguhnya kita ini harus berserah diri kepada Allah untuk
loading... Hakekat memohon perlindungan adalah lari menghindar dari sesuatu yang ditakuti menuju siapapun yang dapat memberikan perlindungan dan keselamatan. Baca Juga Ketahuilah sesungguhnya memohon perlindungan hanya kepada Allah Azza wa Jalla berpasrah diri kepada-Nya dari segala keburukan. Allah taalla berfirman قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ – مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙKatakanlah “Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai al-Falaq. Dari kejahatan makhluk-Nya”.[al-Falaq/1131-2] قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙKatakanlah “Aku berlidung kepada Rabb Yang memelihara dan menguasai manusia”.[an-Nâs/1141] Setiap perbuatan atau perkataan yang di dalamnya terdapat permintaan adalah ibadah. Maka, memohon perlindungan adalah suatu bentuk demikian, tidak dibenarkan hal itu ditujukan kepada selain Allah ta'alla, karena itu adalah perbuatan syirik. Jadi, mengharap kebaikan hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Baca Juga Dialah Yang Maha menghidupkan, mematikan dan membangkitkan. Allah berfirman وَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةً لَّا يَخْلُقُوْنَ شَيْـًٔا وَّهُمْ يُخْلَقُوْنَ وَلَا يَمْلِكُوْنَ لِاَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا وَّلَا يَمْلِكُوْنَ مَوْتًا وَّلَا حَيٰوةً وَّلَا نُشُوْرًا Mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah untuk disembah, sesembahan-sesembahan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk menolak suatu madharat dari diri mereka dan tidak pula dapat memberi suatu manfaat, dan juga tidak kuasa mematikan atau menghidupkan dan tidak pula membangkitkan. [al-Furqân/253] “Perlu diketahui bahwa suatu bentuk permintaan dapat berbeda predikat dan ragamnya tergantung siapa yang diminta. Apabila pihak yang diminta setara dengan yang meminta maka disebut mencari iltimâs, apabila yang diminta lebih rendah maka itu disebut perintah. Namun, apabila yang diminta lebih tinggi maka disebut memohon berdoa. Tidak diragukan bahwa seorang yang memohon perlindungan, dia tengah meminta kepada yang lebih tinggi darinya…”. Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita agar memohon perlindungan dari gangguan setan hanya kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman وَقُلْ رَّبِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيْنِ ۙ –وَاَعُوْذُ بِكَ رَبِّ اَنْ يَّحْضُرُوْنِDan katakanlah “wahai Rabbi, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan godaan setan. Dan aku berlindung pula kepada Engkau Ya Rabbi, dari kedatangan mereka kepadaku”. [al-Mukminûn/2397-98] وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُDan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. [Fussilat/4136] Seorang Mukmin hendaknya berlindung kepada Allah semata dari segala keburukan yang menimpanya, baik dari pertemuan dengan para setan, kehadiran mereka yang mengejutkan, ajakan kesesatan, bisikan ataupun godaan mereka untuk berbuat kemaksiatan. Apabila Allah melindungi hamba-Nya dari keburukan ini dan mengabulkan permohonannya, maka dia akan selamat dari segala celaka dan keburukan, serta diberikan taufik untuk melakukan segala kebaikan. Baca Juga Cerminan tauhidBerlindung dari apapun yang membahayakan kita hanya kepada Allah adalah cerminan tauhid. Lihatlah bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan keteladanan kepada kita selaku umatnya. عَنْ خَوْلَة بِنْتِ حَكِيمٍ السُّلَمِيَّةِ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قاَلَ “أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ”، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْئٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ Dari Khaulah binti Hakim as-Sulamiyyah Radhiyallahu anha ia berkata aku telah mendengar Rasulullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa singgah di sebuah tempat dan dia membaca ” أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ “ aku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna dari keburukan apapun yang telah Allah ciptakan, maka tiada satu pun dapat mencelakakannya hingga dia meninggalkan tempat tersebut”. Dalam riwayat lain disebutkan dengan bentuk perintah “Jika salah seorang di antara kalian singgah di sebuah tempat hendaklah ia membaca….!!”. HR Muslim Inilah syariat Islam dalam memohon perlindungan. Yakni agar berlindung kepada Allah Azza wa Jalla dengan firman-firman-Nya yang sempurna, yang tiada kekurangan atau aib padanya. Bukan berlindung kepada para jin, setan atau mantera azimat dukun, sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang di zaman ini yang ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kaum jahiliyah. Itu adalah perbuatan syirik karena memohon perlindungan adalah ibadah padahal ibadah hanyalah ditujukan kepada Allah Azza wa Jalla semata. Allah Azza wa Jalla berfirman قُلْ اَتَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا ۗوَاللّٰهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ“Katakanlah “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi madharrat kepadamu dan tidak pula memberi manfaat?” dan Allah-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. [al-Mâidah/5 76] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata “Barangsiapa menyajikan sembelihan untuk setan, berdoa kepadanya, memohon bantuan dan lindungan darinya, mendekatkan diri kepada setan dengan sesuatu yang setan sukai, maka sungguh dia telah menyembah setan itu sekalipun dirinya tidak menamakan hal tersebut sebagai ibadah…”. Taisîrul-`Azîzil-Hamîd hlm 179. Lihat Badâi`ul-Fawâid 2/461Bahkan Islam telah mengajarkan semua petunjuk berlindung dari berbagai hal yang mungkin menimbulkan bahaya kepada kita termasuk dari gangguan para setan. Baca Juga Mari kita cermati baik-baik doa dan dzikir-dzikir berikut ini. Semua telah diajarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam “اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ” مُسْلِمٌ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan. [Doa masuk WC HR. Muslim] “أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ” أَبُوْ دَاوُدَ Aku berlindung kepada Allah Yang Maha agung, dengan wajah-Nya yang mulia, kekuasaan-Nya yang terdahulu dari godaan setan yang terkutuk”. [Doa masuk Masjid HR Abu Dâwud] ” اللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ” ابْنُ مَاجَهَ “… ya Allah, lindungi aku dari setan yang terkutuk”. [Bagian dari doa keluar Masjid HR Ibnu Mâjah] أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍAku memohon perlindungan kepada Allah bagi kalian berdua dengan firman-firman Allah yang sempurna dari gangguan setan dan binatang, serta dari bahaya sihir `ain yang tajam. [Doa perlindungan bagi Anak HR al-Bukhâri] بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَاDengan menyebut nama Allah . Ya Allah, hindarkan kami dari setan. Jauhkan setan dari anak yang Engkau karuniakan kepada kami” [Doa berkumpul dengan isteri HR al-Bukhâri, Muslim] أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لاَ يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَلاَ فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَ رَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنْ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِي اْلأَرْضِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلاَّ طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُAku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna, yang tidak bisa ditembus oleh para hamba yang shalih apalagi yang fasik, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan yang turun dari langit atau yang naik ke atas langit, serta dari segala kejahatan makhluk di bumi. Juga dari kejahatan yang keluar dari perut bumi, dari kondisi buruk kekacauan di siang dan malam, serta dari kejahatan tamu di tengah malam, kecuali yang bermaksud baik, wahai ar-Rahmân Sang Penyayang…” [Doa mengusir setan jahat HR. Ahmad] Dan masih banyak lagi contoh-contoh tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bagi kita selaku umatnya dalam berlindung diri dari berbagai keburukan setan. Barangsiapa menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam memohon perlindungan kepada Allah Azza wa Jalla , maka sungguh dia telah mencerminkan tauhid dirinya kepada Allah Azza wa Jalla . mhy
HIDAYAHHANYA MILIK ALLAH-Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal kita. Barang siapa mendapat petunjuk dari Allah maka tika nada yang menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada pemberi petunjuknya baginya.
TA’UDZ, ta’awudz, atau isti’adzah adalah ucapan a’udzu billahi minasy syaithonir rojim. Artinya, aku berlindung kepada Allah dari godaan, kejahatan, bisikan setan yang beberapa ayat atau nash Alquran yang memerintahkan kita untuk membaca isti’adzah, di antaranya “Jika kamu membaca Alquran, maka hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari gangguan setan yang terkutuk” QS. An-Nahl 98. “Jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah, karea sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” QS. Al-A’rof200.“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” QS. Fushilat36.“Dan katakanlah, wahai Tuhanku, aku berindung kepada-Mu dari bisikan setan dan aku berlindung pula kepada-Mu, wahai Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku” QS. Al-Mu’minun97-98Perintah berlindung kepada Allah juga terdapat dalam QS. Al-Falaq dan QS. tersebut mengisyaratkan kepada kita, bahwa kita diperintahkan membaca isti’adzah dalam kondisi, antara lainKetika hendak membaca setiap keadaan, khususnya saat merasa khawatir terhadap sesuatu yang ditakuti atau bisikan-bisikan yang mendorong pada merasa takut dari kejahatan apa pun yang dibuat oleh atau bacaan isti’adzah –seperti a’udzubillahi minasy syaithonir rojim—tidak ada dalam Alquran. Tidak ada ayat khusus dalam Alquran yang mengandung kalimat atau ucapan isti’adzah, seperti halnya kata Amin yang biasa kita ucapkan setelah selesai membaca Surat Al-Fatihah –khususnya dalam sholat. Kata Amin tidak ada di akhir surat ulama sepakat, susunan kalimat isti’adzah bukan nash Alquran, tapi hanyalah pelaksanaan dari perintah Alquran tentang keharusan kita berlindung kepada Allah isti’adzah. Oleh karena itu, Nabi Saw dan para sahabat sering mengucapkan isti’adzah dengan kalimat berbeda-beda namun maksudnya tetap sama. Para ulama sendiri memilih kalimat yang berbeda-beda dalam melaksanakan isti’adzah ini, misalnyaImam Syafi’i pendiri mazhab Syafi’iyah memilih untuk menggunakan kalimat a’udzubillahi minasy syaithonir rojim Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.Imam Ahmad bin Hambal pendiri mazhab Hambaliyah lebih suka menggunakan kalimat a’udzu billahis-sami’il alim minasy syaithonirrojim Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Mengetahui dari setan yang terkutuk.Imam Ats-Tsaury pendiri mazhab Tsauriyah – a’udzubillahi minasy syaithonir rojim innahu huwas sami’ul alim Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk sesunggunya Dia [Allah] Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.Selain ketiga macam bacaan isti’adzah tadi, masih ada yang lain. Ada juga ulama yang memilih kalimatAsta’idzu billahi minasy syaithonir rojim Aku berlindung kepada Allah dari gangguan setan yang terkutuk.A’udzu billahi minasy syaithonir rojim min hamzihi Aku berlindung kepada Allah dari gangguan setan yang terkutuk dari bisikannya.Allahumma inni a’udzubika Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu.Rabbi a’udzubika min hamazatisy syayathin wa a’udzubika robbi an yahdhurun Wahai Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari goresan setan dan aku berlindung kepada-Mu dari kehadiran mereka.Bahkan pada permulaan Islam, umat Islam mengucapkan isti’adzah secara ringkas, yaitu mengucapkan ma’adzallah, artinya “Aku berlindung kepada Allah”.Muncul pertanyaan, mengapa kita harus membaca isti’adzah? Sebabnya, setan merupakan musuh manusia yang paling besar. Karena itu pulalah kita diperintahkan berlindung pada Allah dari godaan dan kejahatan mereka. Setan itu suka menipu manusia dan mendorong niat jahat dalam hati atau lafadz isti’adzah yang paling populer atau banyak digunakan, khususnya oleh umat Islam Indonesia, yakni a’udzubillahi minasy syaithonir rojimA’udzu = aku berlindung. Dari segi Arab ilmu tashrif, a’udzu aku berlindung berasal dari kata a’wudzu, sama seperti af’ulu, aqtulu, atau anshuru. Namun karena ada huruf wawu didhomahkan, sehingga sulit diucapkan, maka disederhanakan menjadi a’udzu, artinya aku berlindung atau aku meminta = kepada Allah. Kata Allah adalah nama khusus bagi Dzat Yang Mahapencipta semesta alam. Sebagian ulama, misalnya Imam … berpendapat, Allah berasal dari kata Ilah, artinya Tuhan. Kata Ilah memakai alif-lam di depannya menjadi yang menyebutkan, kata Ilah sendiri berasal dari kata alaha-yalahu-ilahun, artinya sesuatu yang disembah. Jadi, apa saja yang disembah oleh manusia disebut Ilah Tuhan. Namun sebagai ulama berpendapat, Allah bukan berasal dari Ilah, tapi khusus nama bagi Dia saja. Maka, kita pun tidak boleh menggunakan nama Allah, kecuali menggunakan kata depan, misalnya Abdu, sehingga menjadi Abdullah hamba Allah. Bahkan, sifat-sifat Allah juga tidak boleh digunakan menjadi nama, misalnya Rohman, tapi harus ditambah di depannya, misalnya Abdurrohman hamba Dzat Yang Maha Penyayang.Min As-Syaithon = dari setan. Dari segi asal kata, setan berasl dari kata syathona, yasythunu, syaithonan = ba’uda = jauh. Sebab setan adalah makhluk yang dijauhkan Allah dari segala yang beranggapan, setan berasal dari kata syathin-tasythin, artinya “makhluk yang dijauhkan dari berbagai kejahatan”. Ada juga pendapat, asal kata setan adalah syatho-yasyithu-syaithon. Kesimpulannya, setan adalah “nama bagi segala yang melampuai batas dan selalu mengajak kepada maksiat atau kejahatan, baik dari golongan jin makhluk halus maupun golongan = yang terkutuk, yang dilaknat, atau yang dimurkai. Dari segi bahasa ilmu tashrif, rojim ini sebenarnya isim fail subjek, yakni “yang melaknat”. Namun menurut para ulama, rojim ini isim fa’il namun bermakna isim maf’ul objek, sehingga artinya “yang dilaknat”. Dari asal-usul kata, secara bahasa rojim artinya “segala sesuatu yang dijauhkan dari kebajikan”, juga berarti “yang dilempari”.Itulah sebabnya pula, hukuman dilempari batu bagi yang berzina disebut hukum rajam, artinya hukuman dengan dilempari batu. Wallahu a’lam. Sumber KH. Aminuddin Saleh/Alhikmah.*
Pada TUHAN aku berlindung, bagaimana kamu berani berkata kepadaku: "Terbanglah ke gunung seperti burung!'" (Mzm. 11:1). Inilah akta iman Daud. Seakan-akan dia berkata kepada orang yang tak menyukai dirinya, "Kok berani-beraninya kamu mengusir saya!" Daud memahami bahwa Allah adalah tempat perlindungannya.
Mazmur 1188Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada morning Saudara, Mazmur 1188 merupakan ayat paling tengah di Alkitab. Sesuatu yang berada di tengah-tengah, biasanya menunjukkan hal penting yang perlu mendapat perhatian. Seorang pembicara dalam seminar, umumnya diberi mimbar/podium yang berada di tengah. Saat menonton konser musik atau pertunjukkan, kursi-kursi yang berada di tengah biasanya dipatok harga yang lebih mahal karena banyak berarti ayat yang lain tidak penting karena semua isi Alkitab itu penting bagi kita, tetapi jika ayat paling tengah di Alkitab mengingatkan kita untuk berlindung kepada Allah daripada kepada manusia, maka hendaknya kita pun menaruh perhatian yang serius akan hal ini. Mengapa demikian? Sebab banyak orang percaya, meskipun mereka tahu bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan yang sungguh; tetapi mereka masih mencari perlindungan kepada manusia juga. Mereka percaya Tuhan tetapi yang mereka andalkan adalah kekuatan/kehebatan kita sadari bahwa, sehebat-hebatnya kemampuan intelektual, finansial, pangkat atau jabatan seorang manusia, pasti ada batasnya dan tidak ada yang bisa menandingi kehebatan Tuhan. Untuk itu, jangan mendukakan hati Tuhan dengan berlindung kepada manusia, tetapi berlindunglah hanya kepada Tuhan. TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya Nahum 17. Haleluya. Tuhan Yesus memberkati.
Artinya "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terlontar. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang maha pengasih lagi maha penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah. Hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan.
Barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan. Sebab hanya Allah satu-satunya tempat berlindung, meminta keselamatan, dan tumpuan harapan. Allah, Rabb yang menguasai segenap langit dan bumi, tidak ada satupun makhluk yang luput dari kekuasaan dan ilmu-Nya. Segala manfaat dan madharat berada di tangan-Nya. Maka sungguh mengherankan apabila manusia yang lemah bersandar kepada sesama makhluk yang lemah pula, mengapa dia tidak menyandarkan urusannya kepada Allah ta’ala yang maha kuasa? Bukankah setiap hari, di setiap kali shalat, bahkan dalam setiap raka’at shalat kita selalu membaca ayat yang mulia, Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’; hanya kepada-Mu ya Allah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan… Oleh sebab itu bagi seorang mukmin, tempat menggantungkan hati dan puncak harapannya adalah Allah semata, bukan selain-Nya. Kepada Allah lah kita serahkan seluruh urusan kita… Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan kepada Allah saja hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” QS. al-Ma’idah 23. Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban menggantungkan hati semata-mata kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Tawakal adalah ibadah. Barangsiapa menujukan ibadah itu kepada selain Allah maka dia telah melakukan kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 256 Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi kebutuhannya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia pasti akan mencukupinya…” QS. ath-Thalaq 3. Ayat yang agung ini menunjukkan bahwasanya tawakal merupakan salah satu sebab utama untuk bisa mendapatkan kemanfaatan maupun menolak kemadharatan. Tawakal adalah kewajiban dan ibadah. Barangsiapa yang menujukan ibadah ini kepada selain Allah maka dia telah berbuat kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 260 Salah satu bentuk perbuatan bergantung kepada selain Allah adalah dengan meminta perlindungan dan keselamatan hidup kepada selain Allah, entah itu jin, penghuni kubur ataupun yang lainnya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Janganlah kamu menyeru kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak menjamin manfaat maupun madharat kepadamu, apabila kamu tetap melakukannya niscaya kamu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” QS. Yunus 106. Mendatangkan manfaat dan menolak madharat adalah kekhususan yang dimiliki Allah. Barangsiapa yang berdoa kepada selain Allah dan dia meyakini bahwasanya yang dia seru itu menguasai kemanfaatan dan kemadharatan sebagai sekutu bagi Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 104 Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan apabila Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya maka tidak ada yang bisa menyingkapnya selain Dia, dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang bisa menolak keutamaan dari-Nya. Allah timpakan musibah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Yunus 107. Ayat yang agung ini menunjukkan bahwa menyingkap keburukan/bahaya dan mendatangkan manfaat merupakan kekhususan Allah azza wa jalla. Barangsiapa yang mencari hal itu dari selain Allah sesungguhnya dia telah berbuat kemusyrikan lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 105 Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa kesempurnaan iman dan tauhid seorang hamba ditentukan oleh sejauh mana ketergantungan hatinya kepada Allah semata dan upayanya dalam menolak segala sesembahan dan tempat berlindung selain-Nya. Kalau Allah yang menguasai hidup dan mati kita, lalu mengapa kita gantungkan hati kita kepada jin dan benda-benda mati yang tidak menguasai apa-apa?! *** Penulis Abu Mushlih Ari Wahyudi Sumber .
enC7U. esl8dap9e7.pages.dev/154esl8dap9e7.pages.dev/427esl8dap9e7.pages.dev/90esl8dap9e7.pages.dev/438esl8dap9e7.pages.dev/187esl8dap9e7.pages.dev/32esl8dap9e7.pages.dev/7esl8dap9e7.pages.dev/116
berlindung hanya kepada allah