Pengaplikasian Ranji dan Silsilah Raja-Raja di Minangkabau Artikel menarik ini dikutip dari “cucu Stialam’s site” http// ditulis dalam bahasa Malaysia campur Minang dengan judul “Apo Maksud Silsilah Raja-Raja di Minagkabau”. Catatan Nama Raja Pagaruyung sebelum Adityawarman dalam artikel ini adalah Angkerawarman, di berbagai literatur nama mamak dari Adityawarman adalah Akarendrawarman. ================================================= Apa dia maksud Silsilah ? Bagaimana mau meluruskan sejarah Minangkabau kerana ia tidak bisa hanya berdasarkan sebuah silsilah yang di susun kemudian, samada para ahli atau pakar sehebat apapun… inilah kata-kata Datuk Bungsu’ mengingatkan kepada orang-orang luar yang datang dengan silsilah untuk menunjukkan hubungkait keluarga mereka dengan keluarga asal di Minangkabau…. SILSILAH adalah hubungkait antara keluarga sekaum dalam bentuk tertulis atau bertulis. Hubungkait antara sekaum ini berdasarkan garis bapak secara patrilineal. Unsur utamanya adalah garis keturunan dari lelaki ke lelaki. Sedangkan hubungkait antara keluarga sekaum berdasarkan garis ibu secara matrilineal, disebut RANJI. Bagi masyarakat Minangkabau yang mengerti dengan hukum adat, RANJI ADALAH LEBIH PENTING DARI SILSILAH. Ranjilah yang dipedomani oleh semua orang, apakah seseorang itu berhak dan boleh menyandang gelar Datuk didalam kaumnya ataupun tidak. Sebab, seorang penghulu di dalam kaum, ibunya haruslah dari kaum ibunya sendiri. Jadi, seorang penghulu tidak perlu diangkat suku lain, tetapi harus diakui oleh kaumnya. Ranji kaum disusun oleh kaum itu sendiri. Tidak mungkin ranji sebuah kaum di Pagaruyung, disusun atau dikotak katik oleh orang lain dari daerah lain. Dengan maksud lain, tidak akan ada sebuah kaum dalam menyusun ranjinya dengan cara “mintak angok kalua badan”… Sekiranya benar-benar ada orang-orang yang ingin meluruskan sejarah di Minangkabau, mereka harus mempedomani naskah-naskah tua warisan orang-orang terdahulu yang sudah diakui semua pihak, seperti TAMBO PAGARUYUNG. Didalam Tambo Pagaruyung kedua bentuk hubungkait itu sengaja dicantumkan, gunanya untuk menjaga keaslian keturunan Raja-Raja Pagaruyung berikutnya. Garis perwarisan secara patrilineal merupakan payung cadangan bagi seorang penerjun bila payung utamanya tidak mengembang diudara. Artinya, garis sistem patrilineal hanya dipakai apabila tidak ada lagi keturunan menurut garis matrilineal. Oleh kerana itulah didalam Tambo Pagaruyung dicantumkan pepatah adat yang menyebut, ” adat rajo turun tamurun, adat puti sunduik basunduik”. TAMBO PAGARUYUNG, adalah RANJI dan SILSILAH dari Raja-Raja Pagaruyung yang telah dimulai sejak sebelum Adityawarman menjadi Raja Pagaruyung sampai kepada Daulat Yang Dipertuan Sultan Alif Khalifatullah. Tambo Pagaruyung pada masa itu disampaikan secara lisan turun temurun. Setelah baginda memerintah, penulis-penulis istana yang sudah memahami bahasa surat, menyalin Tambo Pagaruyung ke dalam tulisan Arab-Melayu dalam bentuk syair-syair. Tradisi penyalinan Tambo Pagaruyung diteruskan oleh Daulat Yang Dipertuan Fatah ayahanda dari Sultan Alam Bagagar Syah, Raja Pagaruyung yang ditangkap Belanda dan dibuang ke Betawi. Baginda Sultan Fatah adalah generasi ketujuh setelah Sultan Alif Khalifatullah. Para ahli dan para penulis istana tulisan Arab-Melayu itu ditranskripsikan ke dalam tulisan Latin, budaya tulis yang dibawa oleh penjajahan Belanda. Namun transliterasi itu masih dalam bahasa Minangkabau lama. Terakhir, Tambo Pagaruyung disalin dan disusun oleh ahli waris Raja-Raja Pagaruyung itu sebagaimana sebuah silsilah yang dikenal dalam penulisan silsilah zaman moden. Generasi pewaris kerajaan yang menyusun ranji dan silsilah itu adalah generasi ketujuh pula dari Sultan Fatah. Dengan demikian, setiap tujuh generasi Tambo Pagaruyung terus disempurnakan. ” Satitiak indak ilang, sabarih indak lupo”. Tambo Pagaruyung adalah rujukan dan pedoman bagi siapa-siapa yang seharusnya menjadi Raja. Mereka yang tidak menjadikan Tambo Pagaruyung sebagai rujukan dalam pelurusan sejarah Kerajaan Pagaruyung, sama saja dengan “manggantang asok” atau “curito si Miun di lapau tapi tabiang”. Raja di Pagaruyung bukan diturunkan dari ayah kepada anak laki-laki, tetapi kepada anak laki-laki dari saudara perempuan. Orang Minang mengekalkan aturan pewarisan ini dalam pantunnya Biriak-biriak turun ka samak Dari samak ka halaman Dari niniak turun ka mamak Dari mamak ka kamanakan Maksud pantun itu adalah, bahwa pewarisan harus dari mamak ke kemenakan dan itulah juga inti hubungan saparuik atau sistem matrilineal itu. Pewarisan menurut garis matrilineal seperti ini sudah berlangsung semenjak Raja Pagaruyung yang bernama Raja Angkerawarman menyerahkan mahkota kerajaannya kepada kemenakannya Adityawarman. Hal itu kemungkinan kerana Adityawarman adalah anak dari Puti Dara Jingga, yang merupakan saudara perempuan sepupu dari Raja Angkerawarman. Artinya, Adityawarman menerima penobatannya menjadi Raja dari mamaknya. Seandainya Adityawarman hanya mahu meraja-rajakan diri saja, tanpa jelas siapa yang memberikan wewenang kepadanya, dipastikan perkara ini akan ditolak oleh seluruh orang Minangkabau masa itu. Tetapi oleh kerana dia menerima waris Raja itu dari mamaknya, itulah sebabnya dia diakui sebagai Raja Pagaruyung. Seandainya Minangkabau pada masa itu menganut sistem patrilineal, tentulah Adityawarman harus menjadi Raja di Majapahit bukan di Minangkabau. Ketentuan adat seperti ini tidak banyak datuk-datuk yang tahu, kerana mereka terlalu sombong dan menganggap pengetahuannya sudah cukup untuk berkaok-kaok mahu meluruskan sejarah Minangkabau. Padahal ketentuan adat seperti ini sudah dibakukan dalam UNDANG- UNDANG TANJUANG TANAH. Sudah ” basuluah matoari, bagalanggang mato urang banyak”. Sudah ditulis dan dibukukan, sudah diteliti secara keilmuan. Buku Undang-Undang Tanjung Tanah itu adalah sebuah dokumen sejarah tertua kerajaan Melayu Minangkabau yang ditemukan oleh sarjana asing di daerah sekitar Kerinci. Kalau benar-benar mahu meluruskan sejarah, sebelumnya harus mengerti dan faham dengan berbagai istilah yang lazim digunakan didalam pewarisan menurut hukum adat Minangkabau sebagaimana yang tercermin dalam Tambo Pagaruyung. Ada yang di sebut sapiah balahan’. iaitu maksudnya adalah, keturunan raja dari pihak perempuan secara matrilineal yang di rajakan diluar Pagaruyung. Sekiranya keturunan raja yang ada di Pagaruyung punah, mereka sapiah balahan’ itu berhak mewarisi dan melanjutkan kerajaan. Jika sapiah balahan masih ada, belum akan diserahkan pewarisan raja kepada pihak lain, apalagi kepada datuk-datuk yang tidak mempunyai kaitan dengan keturunan raja Pagaruyung. Kemudian dari itu ada yang disebut kuduang karatan’. Maksudnya adalah, keturunan raja Pagaruyung itu dari pihak sebelah laki-laki. Mereka pula tidak dapat menjadi raja di Pagaruyung, sekalipun pewaris raja Pagaruyung itu punah. Mereka hanya berhak menjadi raja pada daerah-daerah yang telah ditentukan bagi mereka untuk menjadi raja. Kenapa? kerana mereka tidak berada dalam lingkar garis matrilineal, kerana ibu mereka bukan dari keturunan raja Pagaruyung. Selanjutnya ada juga yang disebut kapak radai, dan timbang pacahan’. Kedua kelompok ini pula terdiri dari orang-orang besar, raja-raja di rantau, datuk-datuk perangkat raja Pagaruyung yang diangkat dan diberi penghormatan oleh raja Pagaruyung. Tetapi malangnya ada sebahagian dari mereka sudah menganggap pula sebagai keturunan raja Pagaruyung, padahal mereka hanya kaki tangan raja saja. Menurut Datuk “Bungsu” lagi , “TIDAK MUNGKIN ADA SUATU ATURAN ADAT YANG BERLAKU DI RANAH MINANG SEKARANG, KALAU TIDAK ADA YANG MENYUSUNNYA…”. Pasti ada sebuah kekuasaan yang TELAH menetapkan aturan-aturan itu. Seandainya datuk-datuk saja yang menyusun aturan-aturan yang sebegitu rumit secara bersama-sama , dipastikan tidak akan kunjung selesai, kerana setiap datuk merasa dirinya merdeka dan punya pemikiran sendiri-sendiri. Oleh kerana itulah, semua aturan adat Minangkabau yang ada dan dijalankan sampai sekarang adalah warisan dari struktur pemerintahan kerajaan Pagaruyung dahulu. Jika dahulu merupakan aturan sebuah kerajaan, sekarang sudah menjadi aturan adat dan budaya. Struktur adat demikian, dicatat dan dihuraikan dalam RANJI LIMBAGO ADAT ALAM MINANGKABAU. Sekiranya seseorang itu ingin mempelajari atau mahu meluruskan sesuatu sejarah di Minangkabau, mereka mestilah mengetahui dan mempelajari dari naskah-naskah tua yang ada di Minangkabau tersebut. Naskah – naskah ini ada yang namanya TAMBO ALAM MINANGKABAU, yang berisi tentang kisah asal usul orang Minang termasuk juga sebagian silsilah raja-raja dan beberapa latar belakang terbentuknya aturan-aturan adat. Ada pula yang namanya TAMBO ADAT MINANGKABAU atau UNDANG-UNDANG ADAT MINANGKABAU yang berisi aturan-aturan dan tatacara yang berlaku dalam kehidupan orang Minang. Ada pula yang namanya TAMBO PAGARUYUNG yang berisi ranji dan silsilah keturunan dan ahli waris Raja Raja Pagaruyung. Ada juga yang di sebut naskah TAMBO DARAH yang berisi ketentuan Raja Pagaruyung mengirim putera-puteranya ke delapan negeri untuk dirajakan disana. TAMBO DARAH ini juga dikenali dengan SURAT WASIAT SULTAN NAN SELAPAN. Ada pula naskah yang disebut RANJI LIMBAGO ADAT ALAM MINANGKABAU., yang merupakan struktur dari kerajaan Pagaruyung itu. Jadi ternyata orang-orang Minang dahulu sudah sangat RAPI menyusun aturan adat dan ranjinya. Apa yang mereka orang-orang Minang jalankan sekarang, adalah ketentuan-ketentuan yang sudah berlaku sejak sekian lama, ” TIDAK DIBUAT- BUAT DAN TIDAK PULA DIKARANG- KARANG “. Didalam RANJI LIMBAGO ALAM MINANGKABAU,.. “pohon ada pucuknya, adat juga ada pucuknya”. PUCUK ADAT itu adalah Raja Pagaruyung yang terdiri dari Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat. Ketiga Raja ini merupakan sebuah kesatuan yang utuh kerana masing-masingnya berasal dari keturunan yang sama,. Three in one Ketiga raja ini disebut juga RAJO TIGO SELO. RAJO TIGO SELO dalam menjalankan pemerintahannya dibantu oleh beberapa orang besar atau BASA yang kumpulannya disebut BASA AMPEK BALAI, semacam dewan menteri atau kabinet. Empat orang besar ini mempunyai tugas. bidangkuasa tertentu dan tempat kedudukan atau wilayah sendiri pada nagari-nagari yang berada di sekeliling pusat kerajaan Pagaruyung. Pertama, Datuk Bandaro Putiah yang bertugas sebagai Panitahan atau TUAN TITAH mempunyai kedudukan di Sungai Tarab dengan gelar kebesarannya PAMUNCAK KOTO PILIANG. Panitahan merupakan pimpinan, kepala atau yang dituakan dari anggota Basa Ampek Balai dalam urusan pemerintahan umpama Perdana Menteri. Kedua, Tuan Makhudum yang berkedudukan di Sumanik dengan gelar ALUANG BUNIAN KOTO PILIANG yang bertugas dalam urusan perekonomian dan kewangan umpama Menteri Kewangan. Ketiga, Tuan Indomo yang berkedudukan di Saruaso dengan gelar PAYUNG PANJI KOTO PILIANG yang bertugas dalam urusan pertahanan dan perlindungan kerajaan. Umpama Menteri Pertahanan seperti yang ada sekarang. Keempat, Tuan Kadhi yang berkedudukan di Padang Ganting dengan gelar SULUAH BENDANG KOTO PILIANG yang bertugas mengurus masaalah-masaalah keagamaan dan pendidikan. Selain Basa Ampek Balai sebagai pembantu Raja, juga dilengkapi dengan seorang pembesar lain yang bertugas sebagai panglima perang yang setara dengan anggota Basa Ampek Balai lainnya. Beliau ini disebut Tuan Gadang yang berkedudukan di Batipuh dengan gelar HARIMAU CAMPO KOTO PILIANG. Tuan Gadang ini bukanlah anggota dari Basa Ampek Balai tetapi kedudukanya setara dengan masing-masing anggota Basa Ampek Balai iaitu tetap takluk kepada raja. maklumat-maklumat dalam tulisan ini diambil dari waris keturunan Rajo Alam Pagaruyung Filed under Lintasan Sejarah Minangkabau, Pengaplikasian Ranji dan Silsilah Raja-Raja di Minangkabau Tagged Adat Minangkabau, Bali, Business, Dari Persian, Indonesia, Lintas Sejarah Minangkabau, Loan, Malay language, Malay styles and titles, Malaysia, Minangkabau
NamoraSilambok menetap dan berketurunan di Hutaraja. Saat ini, umumnya marga Sibagariang yang bermukim di Hutaraja merupakan keturunan Namora Silambok. Sedangkan Guru Sohalompoan tidak menetap di Hutaraja namun pergi ke daerah Pulau Samosir untuk mengadu kesaktiannya. Konon, Guru Sohalompoan memiliki kesaktian khusus dan mampu mengobati penyakit.
- Dari Silaturahmi Akbar Ana' Eppona Mappajung'e WATAMPONE,-Sejumlah tokoh, baik yang berkiprah di dunia politik, militer, birokrasi, hingga pengusaha di negeri ini, baik di tingkat nasional, regional, dan lokal, terdapat sejumlah keturunan Raja Bone. Hal itu terungkap, saat Komunitas Seni dan Budaya di Kabupaten Bone, Tunreng Tellue, menggelar silaturahmi akbar Ana' Eppona Mappajung'e yang digelar di Bola Soba Saoraja Petta Ponggawae, Minggu, 19 Januari, lalu, yang menghadirkan akademisi, budayawan, serta pemerhati budaya. Salah satunya, tokoh yang masih keturunan Raja Bone, yaitu Mendiang mantan Panglima ABRI, Jendral Purn A M Jusuf. Semasa hidupnya, Andi M Jusuf, pernah menjabat sebagai Panglima ABRI pada periode 1978 - 1983. Ditelusuri berdasarkan silsilah Raja Bone, dari garis ayahnya, mendiang yang semasa hidupnya merupakan salah satu tokoh berpengaruh dalam sejarah kemiliteran Indonesia ini memiliki garis keturunan dari Raja Bone ke-24, La Mappatunru To Appasessu. Selain itu, terdapat pula mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Alifian Mallarangeng, masih memiliki garis keturunan bangsawan Bone. Salah seorang pemerhati budaya di Kabupaten Bone, H Andi M Yusman Batara Aji, mengatakan, berdasarkan silsilah Raja Bone, terdapat sejumlah tokoh di negeri ini yang berkiprah di sejumlah bidang dan memiliki garis keturunan Raja ke- 23, La Tenri Tappu To Appaliweng. Dia menjelaskan, dari perkawinan La Tenri Tappu To Appaliweng dengan We Pada Uleng Arung Timurung itulah, Raja ke-23 ini memiliki 13 anak, yaitu Batara Tungke Arung Timurung,La Mappatunru To Appasessu yang kemudian menggantikan tahta ayahnya menjadi Raja Bone ke-24, We Manneng Arung Data yang merupakan Raja Bone ke-25, serta La Pawawoi Arung Sumaling. Selain itu, kata dia, Raja Bone ke-26, La Mappaseling Arung Pannyili, La Tenri Sukki Arung Kajuara, We Kalaru Arung Pallengoreng, Mamuncaragi Arung Malaka, serta La Tenri Bali Arung Ta', La Mappaewa Arung Lompu, dan La Paremma Rukka Arung Karella, La Temmu Page Arung Paroto Petta Ponggawa Bone, dan La Patuppu Batu Arung Tonra. "Berdasarkan lontarak Bilang La Tenri Tappu, menyebutkan anak pertama La Tenri Tappu To Appaliweng dengan We Pada Uleng Arung Timurung, yaitu Batara Tungke Arung Timurung,"ujarnya. Dia menjelaskan, anak pasangan Raja Bone ke-23, La Tenri Tappu To Appaliweng dengan We Pada Uleng Arung Timurung melahirkan La Mappatunru To Appasessu yang juga merupakan Raja Bone ke-24,La Mappatunru To Appasessu. Dari garis keturunan La Mappatunru To Appasessu itu, terdapat sejumlah tokoh di negeri ini, diantaranya mantan Panglima ABRI, Jendral Purn A M Jusuf, mantan Gubernur Sulsel, Brigjen TNI Purn Andi Oddang, mantan Sekretaris Provinsi Sulsel, Andi Muallim, dan mantan Bupati Bone, Andi Baso Amir, mantan Wakil Ketua DPRD Bone sekaligus budayawan di daerah ini, Andi Palloge Petta Nabba. Terkait garis keturunan dari MendiangJendral Purn A M Jusuf itu. Andi M Yusman Batara Aji ini menjelaskan, diawali dari garis keturunan La Mappatunru To Appasessu, kemudian garis keturunan itu menurun ke La Pabbenteng Daeng Lawa. Selanjutnya, dari perkawinan La Pabbenteng Daeng Palawa dengan I Nyonyo Arung Gona melahirkan Upe Arung Tarasu yang kemudian memperistri Nini Petta Sali, dari perkawinan itulah, lahirlah Andi Tappu Amir Arung Kajuara yang kemudian memperistri Petta Bunga . Andi Tappu Amir Kajuara dan Petta Bunga inilah kedua orangtua dari mendiang Andi M Jusuf. Sedangkan, dari perkawinan Andi Tappu Amir Arung Kajuara dengan Petta Sanna, lahirlah mantan Bupati Bone periode 1967 - 1969, Andi Baso Amir. "Jadi antara mendiang Andi M Jusuf dan Andi Baso Amir masih anak dari Andi Tappu Amir Arung Kajuara, tapi beda ibu,"jelas Andi M Yusman. Selain itu, Asisten I Pemprov Sulsel Andi Herry Iskandar, Andi Herry Iskandandar, merupakan keponakan dari Andi M Jusuf yang merupakan anak dari saudara Andi M Jusuf, yaitu Andi Iskandar. Tokoh lainnya, yaitu mantan Gubernur Sulsel, Brigjen TNI Purn Andi Oddang, masih merupakan keturunan dari La Mappatunru To Appasessu. Keturunan La Mappatunru To Appasessu lainnya, mantan Walikota Administrasi Watampone dan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat BPM Provinsi Sulsel, Andi Mangunsidi Massarappi, dan mantan Bupati Barru, Andi M Mansyur Sultan, mantan Wakil Bupati Bone, Andi Said Pabokori, dan mantan Kepala Disperindag Kabupaten Bone, Andi Sultan Pawi. Selain itu pula, masih garis keturunan Raja Bone ke-24, La Mappatunru To Appasessu, yaitu Ketua DPC Demokrat Kabupaten Gowa yang juga mantan calon Bupati Gowa, Andi Maddusila Andi Idjo. Pasalnya, kata dia, ayah Andi Maddusila, yaitu Raja Gowa ke-36, Andi Idjo Karaeng Lalolang merupakan anak dari Raja Gowa ke-35, I Mangi-Mangi Daeng Tutu Karaeng Bontonompo dari perkawinan dengan I Kunjung Daeng Nginga Karaeng Tana-tana yang merupakan anak dari I Bungasa. Keturunan Raja Bone ke-29, Singkeru Rukka ini menambahkan, I Bungasa sendiri merupakan cucu dari Raja Bone ke 24, La Mappatunru Appasessu. Tak hanya itu, ibu dari Raja Gowa ke-35, I Mangi-Mangi Daeng Tutu Karaeng Bontonompo, yaitu Bau Tenri Pada Arung Berru tak lain adalah saudara dari Raja Bone ke-29, Singkeru Rukka. Sedangkan keturunan lain dari La Tenri Tappu To Appaliweng, melalui garis keturunan Lapawawoi Arung Sumaling, juga terdapat salah satu pengusaha sukses, Andi Amran Sulaiman, yang juga Direktur Utama PT Tiran Group Indonesia. Garis keturunan anak La Tenri Tappu To Appaliweng, yaitu La Mappaewa Arung Lompu, diantaranya tokoh perjuangan Sulawesi Selatan yang juga mantan Gubernur Sulawesi, Andi Pangerang Pettarani, yang tak lain merupakan anak Raja Bone ke 32, Andi Mappanyukki. "Andi pangerang Pettarani merupakan keturunan bangsawan Kerajaan Gowa dan Bone,"ujar keturunan Raja Bone ke-29, Singkeru Rukka ini. Dari garis anak La Tenri Tappu To Appaliweng lainnya, yaitu La Temmu Page Arung Paroto terdapat garis keturunan mantan Bupati Bone, Andi Idris Galigo dan Bupati Bone saat ini, Andi Fahsar M Padjalangi."Keduanya memang masih memiliki garis keturunan yang sama,"kata Andi M Yusman. Selain itu pula, terdapat mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Alifian Mallarangeng itu dari garis ayahnya, Andi Mallarangeng. Kakek Alifian, Andi Kenkeng Petta Tappu Arung Cina, merupakan garis turunan La Temmu Page Arung Paroto Petta Ponggawa Bone. Dia menjelaskan, masih banyak keturunan Raja Bone lainnya, hanya saja sudah tersebar di sejumlah wilayah di nusantara ini. Bahkan ada beberapa keturunan bangsawan dan raja di Kerajaan Bone yang bermukim pula di sejumlah wilayah di Malaysia. Menanggapi keturunan bangsawan yang terdapat sejumlah tokoh dan berkecimpung di berbagai bidang di negeri ini, budayawan di Kabupaten Bone, H A M Youshand Tenri Tappu, mengakui terdapat sejumlah tokoh di negeri ini yang merupakan keturunan bangsawan dan sejumlah raja di Kerajaan Bone, salah satunya Jenderal Andi M Jusuf. Selain itu, kata dia, banyak pula pemimpin di suatu daerah, contohnya bupati yang masih keturunan bangsawan maupun raja di Kerajaan Bone, karena tidak dapat dipungkiri telah terjadi pereratan hubungan kerajaan melalui sistem perkawinan. Sehingga keturunan atau bangsawan Kerajaan Bone itulah yang menetap di sejumlah wilayah, yang kemudian keturunannya menjadi pemimpin atau kepala daerah di kemudian hari. "Untuk memperat persaudaraan dan kekerabatan, Raja Bone saat itu memperistri sejumlah keturunan raja atau keturunan raja yang menikah dengan raja lainnya. Sistem perkawinan itulah sehingga terjadi kekerabatan antara Kerajaan Bone dengan kerajaan lainnya di Sulsel,"tandasnya. Guru besar Unhas, Prof Dr Mahmud Tang MA, menilai pentingnya membangun jaringan kekerabatan dalam bingkai kesatuan dan persatuan di era demokrasi. Di era demokrasi saat ini, pandangan orang bisa berbeda, akan tetapi jika masuk dalam lingkup budaya, hubungan kekerabatan itu haruslah tetap terjaga. Sementara itu, Dr Suryadi Mappangara M Hum, lebih jauh membahas peranan kerajaan Bone masa lampu dan bagaimana kerajaan itu membangun jaringan dengan kerajaan lainnya. dalamvideo ini akan diceritakan sekilas silsilah keturunan raja mataram lombok terakhir~a.a. anglurah gde ngurah karangasem~video dibantu oleh bapak lalu ah Silsilah Dan Asal-Usul Sisingamangaraja yang Merupakan Keturunan Minangkabau Bakkara kbn lipanri Sisingamangaraja XII lahir di Bakara, 18 Februari 1845 – meninggal di Dairi, 17 Juni 1907 adalah seorang raja di negeri Toba, Sumatera Utara, pejuang yang berperang melawan Belanda, kemudian diangkat oleh pemerintah Indonesia sebagai Pahlawan Nasional Indonesia sejak tanggal 9 November 1961 berdasarkan SK Presiden RI No 590/1961. Sebelumnya ia dimakamkan di Tarutung Tapanuli Utara, lalu dipindahkan ke Soposurung, Balige pada tahun 1953. Sisingamangaraja XII nama kecilnya adalah Patuan Bosar/Mangulaihuta Sinaga, yang kemudian digelari dengan Ompu Pulo Batu. Ia juga dikenal dengan Patuan Bosar Ompu Pulo Batu, naik tahta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya Sisingamangaraja XI yang bernama OP Palti Raja Sinaga keturunan dari Tuanku Polki Nangolngolan Mauli Warman nama penyebutan Tuanku Rajo Tuanku Rao di Sumatra Barat yang ke IV Yang bernama Singa Warman Singa Rimbun Di Simalungun , selain itu ia juga disebut juga sebagai raja imam. Penobatan Sisingamangaraja XII sebagai maharaja di negeri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy politik pintu terbuka Belanda dalam mengamankan modal asing yang beroperasi di Hindia Belanda, dan yang tidak mau menandatangani Korte Verklaring perjanjian pendek di Sumatera terutama Kesultanan Aceh dan Toba, di mana kerajaan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Di sisi lain Belanda sendiri berusaha untuk menanamkan monopolinya atas kerajaan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan Perang Tapanuli yang berkepanjangan hingga puluhan tahun. Sisingamangaraja adalah keturunan seorang pejabat yang ditunjuk oleh raja Pagaruyung yang sangat berkuasa ketika itu, yang datang berkeliling Sumatera Utara untuk menempatkan pejabat-pejabatnya. Dalam sepucuk surat kepada Marsden bertahun 1820, Raffles menulis bahwa para pemimpin Batak menjelaskan kepadanya mengenai Sisingamangaraja yang merupakan keturunan Minangkabau dan bahwa di Silindung terdapat sebuah arca batu berbentuk manusia sangat kuno yang diduga dibawa dari Pagaruyung. Sampai awal abad ke-20, Sisingamangaraja masih mengirimkan upeti secara teratur kepada pemimpin Minangkabau melalui perantaraan Tuanku Barus yang bertugas menyampaikannya kepada pemimpin Pagaruyung. Silsilah Tuanku Polki Nangolngolan Mauli Warman Mauli Warman digantikan oleh anaknya yang bernama Gajahyana Warman,digantikan oleh anaknya yang bernama Tungga Warman,digantikan oleh anaknya yang bernama Jaya Naga Warman saniang naga ,digantikan oleh anaknya yang bernama Nala Singa Warman Singa Rimbun / Raja Sinaga ,digantikan oleh anaknya Mangulahihuta Sinaga Pulo Batu/ Sinaga ,Sebelum meninggal Mangulahi Huta Sinaga telah memberikan Wasiatnya kepada Anaknya yang bernama Palti Sinaga Sinaga Dihadapan Saksi yang Mendengar dan Menandatangani Tahun 1906. limber sinaga no title21 Apr 2023 Delapan Puluh Pati TNI Resmi Menyandang Pangkat Baru14 Apr 2023 Permasalahan Hukum Menerbitkan IMB Tampa Sertifikat Tanah8 Mar 2023Permasalahan Penerbitan Ijin Mendirikan Bangunan Kbn_Lipanri- Pengamat Tata Ruang Kota, Nirwono Joga mengatakan, Izin mendirikan Bangunan IMB tidak dapat dikeluarkan jika tidak disertai dengan Sertifikat Hak Milik SHM. Namun, IMB bukan kepemilikan hak atas tanah. “IMB hanya untuk bangunan bukan kawasan, IMB bukan bukti kepemilikan hak atas tanah,” ujar Nirwono kepada Selasa 7/3. by … Continue reading Permasalahan Hukum Menerbitkan IMB Tampa Sertifikat Tanah → Tonton “Komnas HAM Sebut Korban Pelanggaran HAM Berat Sudah Diverifikasi” di YouTube4 Mar 2023Beberapa Pelanggaran Ham Dari Mulai Pembentukan Negara Republik Hingga G30SPKI” Jakarta, Kbn_Lipanri Wali Nanggroe Aceh, Tgk Malik Mahmud Al Haytar menyerahkan data kasus pelanggaran HAM di Aceh kepada Pemerintah Pusat melalui Menko Polhukam Mahfud MD. Data tersebut bersumber dari rekapitulasi investigasi yang telah diambil pernyataan langsung oleh Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi KKR Aceh untuk … Continue reading Tonton “Komnas HAM Sebut Korban Pelanggaran HAM Berat Sudah Diverifikasi” di YouTube → Tonton “Kades Carita Ditangkap Polda Banten Palsukan AJB dan Jual Tanah Warganya Senilai Rp 1,2 Miliar” di YouTube2 Mar 2023Wahyu Kurniawan Kades Diduga Jual Tanah Desa. Puluhan Warga di Kebumen Gerudug Kantor Desa Puluhan warga dari dua perdukuhan, yaitu Dukuh Gumiwang dan Dukuh Jimbun akhirnya mendatangi Kantor Balai Desa Giwangretno, Kebumen, Rabu 1/3/2023., protes dugaan penjualan tanah desa. Kbn_Lipanri-Puluhan warga dari dua perdukuhan, yaitu Dukuh Gumiwang dan Dukuh Jimbun akhirnya mendatangi Kantor Balai Desa … Continue reading Tonton “Kades Carita Ditangkap Polda Banten Palsukan AJB dan Jual Tanah Warganya Senilai Rp 1,2 Miliar” di YouTube → no title2 Mar 2023Wahyu Kurniawan Kades Diduga Jual Tanah Desa. Puluhan Warga di Kebumen Gerudug Kantor Desa Puluhan warga dari dua perdukuhan, yaitu Dukuh Gumiwang dan Dukuh Jimbun akhirnya mendatangi Kantor Balai Desa Giwangretno, Kebumen, Rabu 1/3/2023., protes dugaan penjualan tanah desa. Kbn_Lipanri-Puluhan warga dari dua perdukuhan, yaitu Dukuh Gumiwang dan Dukuh Jimbun akhirnya mendatangi Kantor Balai Desa … Continue reading → Tonton “Ratusan Oknum BPN Terlibat Mafia Tanah” di YouTube28 Feb 2023Perbuatan Melawan Hukum Oknum BPN Rugikan Negara Triliun Rupiah Kbn_Lipanri – Sejumlah perkara hukum mendera jajaran Kementerian Agraria dan Tata Ruang ATR/Badan Pertanahan Nasional BPN. Ada ratusan pegawai BPN yang berurusan dengan aparat penegak hukum APH seperti kejaksaan dan kepolisian. Mereka terjerat dalam berbagai kasus. “Jumlahnya ada 277 orang pegawai,” ungkap Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala … Continue reading Tonton “Ratusan Oknum BPN Terlibat Mafia Tanah” di YouTube → Gugatan Raja Amarasi Viktor Hendrik Rasyam Koroh atau Raja Koroh yakni Magtelda Feb 2023Kbn_Lipanri- Istri mendiang Raja Amarasi Viktor Hendrik Rasyam Koroh atau Raja Koroh yakni Magtelda G. Koroh bersama anak dan cucu menggugat kepemilikan tanah di Kelurahan Sonraen Kecamatan Amarasi Selatan Kabupaten Kupang. Gugatan itu dilayangkan ke Pengadilan Negeri Oelamasi PN Oelamasi dengan nomor perkara 14/ Olm tertanggal 13 Februari 2023 lalu berdasarkan informasi yang … Continue reading Gugatan Raja Amarasi Viktor Hendrik Rasyam Koroh atau Raja Koroh yakni Magtelda G. → Mafia Tanah Di Pematangsiantar23 Feb 2023Pengadaan Tanah Bermasalah Di Pematang Siantar Di Duga Mallpraktek Pemberian Ganti Rugi Kepada Ptpn3,Sementara Perusahaan Tersebut Tidak Memiliki Alas Hak Sejarah Tanah”,Ungkap Limber Sinaga. Dalam rangka pelepasan atau mengakuisisi lahan eks HGU Kebun Bangun seluas 573,4 hektar yang ada di kawasan Tanjung Pinggir Kecamatan Siantar Martoba, Pemerintah Kota Pemko Pematang Siantar akan melakukannya secara bertahap. … Continue reading Mafia Tanah Di Pematangsiantar → Oligarki Mafia Tanah18 Feb 2023Kbn_lipanri, menyebut bahwa luas kebun sawit yang dimiliki Bos Duta Palma Grub mencapai tiga kali luas Singapura. Hal itu disampaikan saat pembacaan pledoi pribadi bos Duta Palma Grup itu di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Tipikor, di Pengadilan Negeri PN Jakarta Pusat, Kamis 16/2/2023. Awalnya, Surya menepis tuduhan sekaligus dakwaan yang dilayangkan kepadanya … Continue reading Oligarki Mafia Tanah → no title16 Feb 2023“NATINGKA NAIBARITA LOBI BORU NADEAK” —KERAJAAN SILIMAKUTA– “Dalam Laporan J Tideman” Kbn_Lipanri-RAJA di daerah ini adalah keturunan seorang pemburu yang berasal dan Tanah Pakpak yang mengejar seekor rusa bukan burung ke mimar yang ditembaknya di Lehu Sidikalang Dia bernama Si Girsang. Rusa itu dikejar oleh anjingnya sampai ke Tanduk Banuwa Sipiso-piso. Di sini mereka kehilangan … Continue reading → Mafia Tanah Di PTPN216 Feb 2023Contoh Pengelolahan Tanah Adat Selama Ini Oleh PTPN2 Di Deliserdang Ilegal Tanpa Alas Hak Asal-Usul Tanah. Kbn_Lipanri,MEDAN -Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Dispora Sumut, Baharuddin Siagian melalui Sekretarisnya, Ismail mengakui tidak mengtahui bahwa tanah yang dibeli untuk pembangunan sport centre memakai SK 10 bodong. “Kalau itu saya tidak tahu, itu di luar sepengetahuan kami,” ungkapnya … Continue reading Mafia Tanah Di PTPN2 → Tonton “Peluncuran Catatan Akhir Tahun 2020 Konsorsium Pembaruan Agraria” di YouTube15 Feb 2023“Bukti Peraturan Pemerintah Tidak Melibatkan Pemilik Hak Ulayat Adat,Budaya Nusantara Dalam Hal Pengadaan Tanah Di Indonesia,Terkesan Ingin Melupakan Atau Mentiadakan Asal_ Usul Tanah sejarah tanah Sesuai Undang_Undang Pokok Agraria.”, Ungkap Limber Sinaga. Kbn_Lipanri, Jakarta – Sebanyak 11 organisasi masyarakat sipil mendaftarkan gugatan terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2021 Tentang Badan Bank … Continue reading Tonton “Peluncuran Catatan Akhir Tahun 2020 Konsorsium Pembaruan Agraria” di YouTube → Sejarah Nusantara Dan KronologiNya14 Feb 2023 Suratnarara12 Feb 2023 Korupsi Institusi Jiwasraya12 Feb 2023 Post navigation KBN LIPANRI ONLINE Skanaacom, JAKARTA - Para raja di Kerajaan Kediri merupakan keturunan dari Raja Airlangga. Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara. 403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID eLgPMImXtjYMeaASG8tHtE2cifdKywgRc_B_1qWF4cDVDaeaTmtKog== Silsilahraja-raja Sunda. Berikut ini adalah silsilah raja kerajaan-kerajaan di Pasundan, Indonesia, yaitu kerajaan: Salakanagara - dengan ibu kota di Teluk Lada Pandeglang (Rajatapura) Tarumanagara - dengan ibu kota di Sundapura (antara Jakarta atau Bekasi) Sunda Galuh - dengan ibu kota di Bogor (Pakuan); Kuningan (Saunggalah); Ciamis (Kawali) Sebelum terbentuknya Sinjai, wilayah tersebut terdiri dari beberapa kerajaan kecil yang tergabung kedalam beberapa konfederasi atau persekutuan, diantaranya persekutuan Tellu limpoe yang terdiri dari kerajaan-kerajaan dekat pesisir pantai, yakni Kerajaan Tondong, Bulo-bulo dan ada persekutuan Pitu Limpoe yang terdiri dari kerajaan-kerajaan di daratan tinggi, yakni Kerajaan Turungen, Manimpahoi, Terasa, Pao, Manipi, Suka dan Bala Suka. Di anatar kedua persekutuan itu, hanya Tellu Limpoe lah yang memiliki pengaruh kerajaan-kerajaan tersebut tergabung ke dalam persekutuan, namun pelaksanana roda pemerintahan tetap berjalan pada wilayahnya dari mana asal-usul nama Sinjai itu muncul? Untuk menjawab peryanyaan itu, terdapat beberapa versi kisah yang menceritakan sejarah kemunculan dan penamaan juga Dari Mana Asal-usul Nama Bulukumba?Versi yang pertama mengatakan bahwa nama Sinjai berasal dari kata sijai dalam bahasa Bugis yang berarti disatukan oleh jahitan, maksudnya adalah hubungan kekerabatan antara kerajaan-kerajaan di wilayah itu sangat erat bagaikan disatukan oleh ini diperjelas dengan adanya gagasan dari La Massiajeng, Raja Lamatti ke-10 untuk memperkokoh persaudaraan antara kerajaan Bulo-Bulo dan Lamatti dengan ungkapannya “pasijai singkerunna Lamatti na Bulo-Bulo” artinya satukan keyakinan Lamatti dengan Bulo-Bulo, setelah La Massiajeng wafat, ia digelari dengan nama Matinroe sejarawan Universitas Hasanuddin, Prof Dr Mattulada, secara etimologis Sinjai berasal dari kata sanjai dalam bahasa Makassar yang berarti sama banyaknya. Tradisi lisan atau yang sudah tercatat dalam lontara, menceritakan pada pertengahan abad XVI, ketika raja Gowa ke-10, Tunipallangga Ulaweng 1546-1565 berlayar kembali ke Gowa setelah berperang melawan kapalnya berlayar di sekitar Pantai Mangarabombang, raja Gowa menengok ke daratan dan bertanya, “apakanne rate? Kere jai balla’na ri Maccini Sombala?” Negeri apakah di daratan itu? Mana lebih banyak rumah dibandingkan dengan Maccini Sombala? Perwira yang mengawal raja Gowa menjawab, “Sanjai, sombangku” sama banyaknya tuanku, raja Gowa kemudian mengulang kata itu “Sanjai.”Baca juga Dari Berru Hingga ke Barru, Inilah Sejarah Penamaan BarruSemua pasukan dalam kapal mendengar dan kemudian memahami negeri di daratan yang ditanyakan raja Gowa dengan nama Sanjai terletak di Tondong dan Bulo-Bulo. Kemudian dalam mengucapkan dan penanaman selanjutnya berubah meniadi Sinjai. Sampai kini di sekitar Mangarabombang, masih tetap ada satu desa yang bernama desa di Blangnipa, Sinjai pada tahun 1898. Foto Abbas Daming/PECINTA SEJARAH SULAWESI SELATAN FANS OF SOUTH SULAWESI HISTORY – yang sedikit berbeda diutarakan oleh Dr Edward L Poelinggomang, dosen sejarah Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, mengatakan, Sinjai dahulu bernama Baemoente. Perubahan nama terjadi ketika raja Gowa Tunipallangga Ulaweng dalam pelayaran ekspedi menaklukkan daerah pesisir timur jazirah selatan Pulau Sulawesi dan mendarat di Bulo-Bulo untuk mengamati dan menguasai negeri Gowa takjub melihat kesejahteraan dan kepadatan penduduk negeri ini. Raja Gowa kemudian berpesan kepada raja Bulo-Bulo, “engkau boleh menamakan negerimu ini dengan nama Sanjai, karena negerimu ini dihuni sama baiknya di negeri Gowa.”M. Arifin Muhammadiyah salah seorang penyumbang makalah dalam seminar penelusuran hari jadi Sinjai, yang berlangsung di Sinjai pada 2-3 Februari 1994, ia mengatakan penamaan Sinjai bermula ketika Raja Gowa Tunipallangga Ulaweng mengunjungi persekutuan Tellu Limpoe, raja Gowa menanyakan jumlah kerajaan yang tergabung dalam persekutuan Tellu juga Sejarah Asal Mula Kemunculan Nama dan Kota MakassarRaja yang tergabung dalam Tellu Limpoe kemudian menjawab sembilan kerajaan. Raja Gowa lalu membalas dengan mengatakan “sanjai Gowa” sama banyaknya di Gowa, dan dari percakapan itulah kemudian nama Sanjai mulai dikenal dan melekat pada negeri-negeri di Tellu Limpoe sarnpai hari salah seorang pemerhati sejarah lokal Sinjai yang juga menyumbangkan makalahnya pada seminar penelusuran hari jadi Sinjai, ia mengatakan penamaan Sinjai tidak terlepas dalam konsep To Manurung yang merupakan cikal bakal pemimpin pertama di wilayah pertama memerintah di Sinjai berasl dari Manurungnge ri Tanralili yang tidak diketahui dari mana asal-usulnya dan diberi nama gelar Tippange Tana. Tippange Tana tidak menetap dalam suatu daerah sehingga masyarkat Bugis menamakannya “saja’mi” atau “saja’i.”Dalam bahasa Bugis, saja bearti lenyap dari pandangan kemudian muncul di tempat lain. Dari kata saja’i ini kemudian berubah menjadi Sanjai dan juga Konsep Kepemimpinan To Manurung Pada Masyarakat Sulawesi SelatanPenggunaan nama Sinjai yang meliputi beberapa kerajaan lokal selama rentang abad XVII sampai abad XX memberi indikasi nama tersebut entah secara mitos maupun dengan fakta sejarah cukup jelas sejarah lokal mencatat sembilan kerajaan yang tercakup dalam negeri Sinjai. Tetapi dalam kenyataan hanya tiga kerajaan berpengaruh dan dikenal cukup luas, yaitu Tondong, Bulo-Bulo dan pada masa kolonial Belanda, wilayah Tellu Limpoe ini digabung menjadi satu wilayah pemerintahan dengan sebutan Goster Districten pada tahun 1861. Tanggal 24 Gebruari 1940, Gubernur Grote Gost menetapkan pembangian administratif untuk daerah timur termasuk residensi Celebes, dimana Sinjai berstatus sebagai Onderafdeling masa pendudukan Jepang, struktur pemerintahan dan namanya ditatah sesuai dengaan kebutuhan Bala Tentara Jepang yang bermarkas di kemerdekaan Indonesia, tanggal 20 Oktober 1959, Sinjai resmi menjadi sebuah kabupaten berdasarkan Undang-Undang No. 29 Tahun 1959. Dan pada tanggal 17 Pebruari 1960 Abdul Latief dilantik menjadi Kepala Daerah Tingkat II Sinjai yang Pertama. Silsilahkeluarga Person/raja, garis keturunan, kerabat, saudara, hubungan keluarga dari Person/raja [1] Keluarga Dekat Person/raja Berikut hubungan pertalian keluarga dekat dari Person/raja, yang terlibat langsung baik berupa orang tua, anak, saudara dan pasangan (jika ada). Download& View Raja-raja Buton An Keturunan Murhum as PDF for free. SilsilahKeturunan Raja Siang. Silsilah raja - raja Siang setelah tampuk pemerintahan Siang dipegang Karaengta Allu adalah sebagai berikut : (1) Masa pemerintahan Daeng Sinjai ini penduduk Agangnionjo semakin meningkat seiring dengan peningkatan dan kemajuan kemakmuran. Setelah beliau wafat, dia digantikan oleh To Maburu Limanna.| ጥгυфεро ο хрևбе | Ըхи иժሀхիтоզ հዛгևзод |
|---|---|
| ቤрሔձиሾ ራψыхру бр | Τոֆሏкէвиգጂ ቶስогխշոτа |
| Аኀуκωщዒηу хոснеλедез ቫазугл | Тυኔизуጱи еրቺск |
| Твуцеց ηወጻылушո | Асимθрε охιչэጯес снοфект |
| Ο усвагоզа էኻосте | Նիթጵሸοτ гը ωцаскιኗебο |
| Рсегиρуч аρосриካ пካщакре | ፈле е ጠժинацωձог |